PANDEGLANG — Ada pepatah lama yang sangat bijak: "Serapih-rapihnya menyimpan bangkai, lama-lama tercium juga." Peribahasa ini mengingatkan kita akan satu kebenaran yang tak bisa dibantah: setiap perbuatan yang tersembunyi, sekalipun disimpan rapi dan lama, pada akhirnya akan terungkap juga. Tidak ada rahasia yang abadi tertutup rapat di muka bumi ini.
Sering kita saksikan di sekitar kita, terutama di lingkungan kita sendiri Ada yang beranggapan bahwa selama tidak ada yang melihat, selama dokumen terlihat rapi, selama tidak ada yang melaporkan, maka perbuatan yang keliru itu dianggap tidak pernah terjadi. Padahal, kenyataan berkata lain.
Bukti-bukti tidak selalu berbentuk kertas atau rekaman. Ada tanda-tanda yang tak bisa dibohongi: kualitas pekerjaan yang tidak sesuai janji, pengerjaan yang asal jadi, material yang tidak sesuai spesifikasi, hingga keluhan kecil yang berbisik dari mulut ke mulut di antara warga. Semua itu perlahan-lahan menyusun cerita utuh yang tak bisa dibungkam.
Sangat tepat jika dikatakan: "Jika tidak mau orang tahu, jangan pernah melakukannya." Bukan berarti mata-mata orang selalu mengawasi, melainkan karena hati nurani dan kenyataan sendiri yang akan membongkarnya. Kebenaran memang kadang terlambat, tetapi ia tidak pernah absen.
Kepada siapa saja yang memegang amanah rakyat, yang mengelola uang negara, yang dipercaya mengurus kepentingan bersama: lakukanlah dengan jujur, terbuka, dan sesuai aturan. Karena hal yang disembunyikan akan tercium baunya, dan hal yang benar akan berdiri tegak tanpa perlu takut diterangkan.
Ingatlah rahasia yang dibawa ke mana-mana, pada akhirnya akan tertinggal di tempat yang tepat — di telinga masyarakat yang mengawasi. Oleh karena itu, tak ada jalan lain selain berbuat benar. Sebab, jika benar, tidak ada yang perlu ditakuti. Jika bersih, tidak ada yang perlu disembunyikan. (Red)
Penulis: Nuryahman, S.Pd. Praktisi Pendidikan Sakligus penggiat nitizen Jurnalisme (PPWI), sekaligus aktifis antik korupsi Gerakan Pemuda marhaenis.