Pandeglang Banten | Sejarah merupakan risalah yang mustahil terhapus begitu saja, boleh saja jaman berbeda situasi dan kondisi, akan tetapi Hikayat adalah noktah peristiwa yang terakumulasi dari berbagai sumber dan catatan penting, bahkan sejarah bukanlah sebuah legenda pembiasan jejak, bukanlah sebuah mitos bukanlah kalimat " Konon katanya". Akan tetapi sejarah akan berlaku sepanjang peradaban, dan sejarah adalah berfusi dengan keabadian, meski Sejarah kadang dikatakan tergantung siapa dan kepada siapa yang dibidik oleh sang penulis itu sendiri (Winston Churchill).
Mengungkap Kenapa Caringin berhak menjadi Kabupaten ? beranjak dari Journal trading, adanya sebuah Daerah bernama Caringin atau Tjiringin (sekarang Desa Caringin Kecamatan Labuan Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten) ternyata awalnya adalah sebuah Daerah sebagai pusat Administrasi dan pemerintahan yang dipimpin oleh seorang Regent atau Bupati di Kabupaten yaitu Kabupaten Caringin. Berdasarkan penelusuran dari berbagai sumber. Pada Abad 19 awal menjabat sebagai Bupati Caringin adalah Raden Adipati Mandoera Radja Djajanegara kemudian digantikan oleh Raden Tumenggung Adipati Wiriadidjaja atau Masyarakat setempat menyebutnya Regen Boncel, sehubungan Raden Adipati Mandoera Djajanegara dialih tugaskan menjadi Bupati di Kabupaten Serang Utara.
Regen Boncel menjabat sebagai Bupati (Bukan Wedana. Pen) Caringin selama Sepuluh Tahun, mulai dari Tanggal 5 Juli 1839 sampai 21 Oktober 1849 sehubungan menderita penyakit kulit yang cukup parah hingga pada akhirnya mangkat (Meninggal) lalu digantikan oleh Putranya hasil dari pernikahan dengan istri bernama Widaningrum bernama Raden Mas Toemenggoeng Koesoemanagara yaitu pada Tanggal 21 Oktober 1849 Hanya saja menjabat sebagai Bupati tidak begitu lama dan langsung digantikan oleh Raden Aria Soerianegara pada tanggal 26 Januari 1850.
Adapun nisan Regen Boncel berikut istrinya Widaningrum, masih terlihat utuh dan jelas di Kampung Cibango Desa Pejamben Kecamatan Carita Kabupaten Pandeglang.
Pertanyaannya kenapa nama Kabupaten Tjiringin tempo Doeloe terhapus begitu saja. Sehubungan kolom ini terbatas maka penulis terpaksa harus membuat risalah secara " Bersambung" .
Penulis adalah Wartawan suararakyat 21.com
(Dhie).