Pandeglang Banten | Malam perlahan beranjak larut, keberadaan Pasar Baru Labuan Kecamatan Labuan Kabupaten Pandeglang mulai senyap, sejumlah pedagang satu persatu mulai menutup ladang usahanya, Mereka rehat untuk beberapa waktu lamanya, mengikuti siklus keseimbangan kondisi demi dan untuk kembali menuntaskan aktivitas yang tertunda hari tadi, tidak ada transaksi jual beli, tidak ada bisingnya deru kendaraan, tidak ada kemacetan dari pembauran pejalan kaki yang setiap waktu berhimpit ria dengan sasana perparkiran, suasana Pasar Baru pun ibarat panggung Theatre, ketika lakon beralih adegan ketika arranger (Pengaransmen musik) berganti nada, Tirai ditutup giliran sang malam menguasai peran.
Waktu terus merambat. Angin laut kedaratan perlahan berbaur bersama udara Pasar Baru, menerbangkan berbagai jenis aroma, iramanya bersumber dari tumpukan sampah yang membentuk Gunungan - gunungan kecil disembarang sudut, ditambah penguapan suhu dari pembuangan air bekas jenis barang yang dijual seharian, barang dengan kategori cepat terurai oleh waktu, berikut bau parfum dari orang-orang yang masih terjaga bahkan sengaja duduk - duduk dalam temaran lampu penerang. Entah apa yang sedang Mereka diskusikan. Yang jelas malam itu layaknya arena transit antar lawan jenis bahkan kolaborasi jenis (Waria. Red).
" Saya hanya sekedar main - main saja, lantaran kalau di rumah jenuh rasanya, tetapi kalau di sini setidaknya ada kawan bicara, apalagi yang dihadapi adalah seorang Perempuan, Saya sebagai Laki - laki normal ya... ikuti aja apa yang Dia mau." Ungkap Pria paruh baya (Nama dan Alamat ada pada Penulis) ." Ketika terlibat perbincangan di salah satu los pedagang yang sudah ditinggalkan pemilik. Los yang tidak jauh dengan jarak dari Dua Orang perempuan dengan berbusana seadanya, tengah serius memperhatikan situasi.
Boleh saja umur tua, lanjut lelaki paruh baya tetapi jiwa tida harus mengikuti usia, bahkan katanya kalau tidak keluar Dirinya stress. " Betul pak Saya Stres kalau dirumah sebab Saya kan Duda cerai mati, dan Anak - anak sudah berumah tangga semua. " Ungkapnya seraya menghembuskan asap kretek yang dikeluarkan dari bungkus tanpa tempelan legalitas pita cukai.
Tak lama kemudian tiba - tiba seorang Perempuan mendekati, entah kepada siapa Dia memuntahkan kekecewaan nya, yang pasti kalimat yang Dia ucapkan sangatlah terdengar jelas. Atau mungkin karena pengaruh suasana Malam kian sepi.
" Enak Bae emangna urang ABG rek dibawa mumuteran sanajan make motor manehna geh, laju cenah ngomongna kieu, mendingan urang nonton orgen tunggal Bae . Urang kan tujuana lain kadinya tapi kumaha carana peuting ieu boga duit." Katanya ketus tapi terkesan nelangsa.
Pukul 22.49 Wib Selasa malam (7/7/26)Penulis beranjak meninggalkan Pasar Baru. Pasar yang tak kunjung kering dengan aneka Aroma bervariasi. Baru beberapa meter laju kendaraan terdengar suara seseorang memanggil bernada Mezzo Sopran. " A... sini dong mampir...Hmm ... sombongnya."
Akan tetapi ketika menoleh ke arah sumber suara. Tidak jelas bentuknya bagaimana dan bodynya seperti apa, sepertinya sosok itu sembunyi dibalik jenis, dalam keremangan lampu emperan.
(Dhie).