Ketika Iran dan AS yang hendak melakukan perundingan dan dimediasi Pakistan di Islamabad pada April 2026, berbagai laporan menyebut bahwa Iran mengirim sekitar 70–71 orang delegasi. Rinciannya itu antara lain:
1. Negosiator utama dan pejabat senior Iran.
2. Tim teknis dan ahli di bidang ekonomi, keamanan, dan politik (sekitar 26 orang).
3. Tim media (sekitar 23 orang).
4. Tim protokol, penerjemah, dan keamanan.
Delegasi tersebut dipimpin oleh Mohammad Bagher Ghalibaf, dengan Abbas Araghchi sebagai salah satu tokoh utama dalam tim perunding.
Sedangkan Presiden Indonesia, Prabowo Subianto ketika melakukan kunjungan-kunjungan kenegaraannya ke luar negeri, selalu didampingi oleh sekitar 60 an orang dari pihak Indonesia. Bahkan Presiden SBY membawa rombongan sekitar 120 an orang, jika apa yang dikatakan Seskab Teddy itu benar. Entah bagaimana dengan Presiden Jokowi, berapa ratus orang yang dibawanya ketika melakukan kunjungan-kunjungannya ke luar negeri dan terdiri dari tim apa saja. Mungkinkah ada tim hura-huranya? Wallahu a'lam...
Pertanyaannya, kenapa baik itu Prabowo, Jokowi maupun SBY selalu membawa rombongan sebanyak itu, padahal Indonesia tidak lagi berperang, dan hanya sebatas melakukan lobi-lobi politik internasionalnya, entah itu untuk soal bisnis investasi ataukah soal kerjasama keamanan regionalnya? Parahnya lagi, setiap melakukan kunjungan kenegaraan, apalagi seperti Prabowo Subianto selalu memilih hotel-hotel mewah untuk peristirahatan bahkan pestanya.
Apakah ada aturan yang memperbolehkan pesta Presiden Prabowo dan Teddy di Paris misalnya, boleh ditanggung oleh keuangan negara? Jika boleh, lalu apa manfaatnya bagi rakyat Indonesia? Ratusan miliar bahkan mungkin sudah triliunan uang negara, seakan habis sia-sia untuk membiayai gaya hidup presiden dan para pejabat negara di sekelilingnya yang gemar foya-foya.
Karena kalau tekadnya hanya untuk melakukan kunjungan luar negeri dengan maksud akan membawa dampak positif yang besar bagi kemajuan negara dan kesejahteraan rakyat Indonesia, tentunya presiden dan para pejabat negara kita itu akan memilih lebih hemat dan tak harus membawa rombongan sebegitu banyaknya.
Bukankah Presiden Prabowo Subianto selama ini sudah banyak gembar-gembor perlunya efisiensi? Janganlah hanya gembar-gembor efisiensi, namun presidennya sendiri malah banyak menghambur-hamburkan keuangan negara.
Di sisi lain daerah-daerah malah menjerit, karena dana dari pusatnya dipangkas habis-habisan, hingga jalan-jalan di daerah banyak yang rusak, gedung-gedung sekolah banyak yang kumuh dan mau roboh, pasar-pasar tradisional dan pusat-pusat perbelanjaan modernnya sepi, karena daya beli masyarakatnya sangat rendah hingga maling, begal, perampok marak terjadi di mana-mana.
Program MBG banyak yang kacau, anggarannya dimanipulasi dari Rp. 15 ribu jadi hanya 8 sampai 10 ribu. Koperasi Desa Merah Putih juga kacau balau, kadang dibangun di tengah jalan umum, dan masyarakatnya ketika protes malah diminta untuk membuat jalan baru sendiri. Polisi malah banyak yang jadi bandar Narkoba, sebagian lainnya lagi mengurus MBG dan TNI nya diarahkan untuk menanam jagung, padi dan kedelai mungkin juga sawit dll., jauh dari profesinya sebagai institusi keamanan dan ketertiban serta pertahanan negara.
Menteri Keuangannya semakin kesini semakin kesana, tidak mengerti soal anggaran untuk kurban Presiden Prabowo, tidak mengerti soal anggaran untuk program kaos kaki, sepeda motor listrik, laptop untuk SPPG yang tak masuk akal, dan 105 ribu mobil yang didatangkan (impor) dari India untuk kegiatan Kopdes Merah Putih, disaat pemerintah gembar-gembor menyatakan bangga dengan mobil produksi dalam negeri (Maung) yang katanya mau diekspor ke luar negeri.
Rakyat semakin bingung, banyak juga yang mulai frustasi, hingga banyak yang teler, bakar kemenyan dan mandi di tengah taburan berbagai kembang di gentong besar. Mereka berkhayal bisa kaya raya secara instan dengan mengikuti kegiatan judi online dan pinjol. Apakah Presiden Prabowo Subianto memikirkan semua ini, ataukah tak mau tahu dan yang terpenting merasa Indonesia seolah hanya milik Prabowo dan Teddy? Entahlah...(SHE).
2 Juni 2026.
Saiful Huda Ems (SHE).