LAMPUNG SELATAN | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi solusi peningkatan gizi bagi siswa dan ibu menyusui di Kecamatan Candipuro justru memicu gelombang penolakan. Senin (4/5/2026), sejumlah sekolah secara tegas memulangkan paket makanan dari Dapur SPPG setelah menu dinilai monoton, kualitas menurun, bahkan diduga ditemukan nasi berbau serta buah busuk.
Program yang dibiayai negara untuk mencetak generasi sehat itu kini menuai sorotan tajam. Di lapangan, siswa disebut mulai jenuh karena menu yang datang nyaris tak berubah setiap hari: ayam goreng keras, tempe, dan sayur bening tanpa variasi layak.
“Anak-anak baru buka langsung kecewa, bilang ‘ini lagi, ini lagi’. Bahkan ada yang nasinya sudah bau,” ungkap seorang guru SD di Candipuro yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Keluhan lebih serius datang dari Dusun Cerucuk, Desa Sidoasri. Sejumlah warga mengaku menerima buah jeruk berjamur dalam paket MBG. Kondisi ini memicu kekhawatiran besar, terutama bagi ibu menyusui yang juga menjadi sasaran program.
“Katanya makanan bergizi, tapi yang datang itu-itu saja. Ayam keras, sayur asam, buah busuk. Kalau saya konsumsi begini, bagaimana dengan kesehatan saya dan ASI untuk bayi?” keluh S (28), ibu menyusui asal Dusun Cerucuk.
Kekecewaan masyarakat pun memuncak. Beberapa sekolah memilih menolak distribusi dan mengembalikan paket ke Dapur SPPG Candipuro demi menghindari risiko kesehatan.
“Kami tidak mau anak-anak atau ibu menyusui jadi korban. Kalau kualitas seperti ini terus, lebih baik kami tolak sampai ada perbaikan nyata,” tegas seorang kepala sekolah.
Situasi ini menjadi tamparan keras bagi pelaksanaan MBG di Candipuro. Pedoman resmi pemerintah jelas mengharuskan makanan memenuhi standar keamanan pangan, variasi gizi seimbang, serta prinsip “Isi Piringku”. Namun dugaan makanan basi, menu berulang, dan buah tak layak konsumsi menunjukkan adanya persoalan serius dalam pengawasan distribusi.
Jika benar kualitas makanan di bawah standar, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar citra program, tetapi kesehatan anak-anak dan ibu menyusui yang seharusnya dilindungi. Program unggulan negara bisa berubah menjadi ancaman jika pengelolaan terkesan asal jalan.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak pengelola Dapur SPPG Candirejo Titiwangi Candipuro belum memberikan klarifikasi resmi terkait rentetan keluhan tersebut.
Catatan Redaksi:
Kasus penolakan MBG di Candipuro harus menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah dan pengawas program. Makanan bergizi bukan sekadar formalitas distribusi, melainkan soal kualitas, keamanan, dan tanggung jawab. Jika pengawasan lemah, program besar ini bisa kehilangan kepercayaan publik dan justru melukai masyarakat yang seharusnya dilayani.
(Jefri)