Pandeglang - Banten, Siapa peduli, ketika melihat eksterior Kota tepatnya dilingkar Jalan Jenderal Sudirman dan Jenderal Ahmad Yani Kecamatan Labuan Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten, sebuah Patung berupa Dua Orang Nelayan kondisinya nyaris tak berbentuk. Patung bertelanjang dada dengan Dayung serta jaring berikut Ikan hasil tangkap ditangannya terlihat cukup nelangsa, entah faktor agregat, atau usia , atau bisa juga cuaca. Yang jelas selain terlihat Kumal juga terkesan tidak tersentuh oleh Tangan - tangan dari bagian perawatan berikut pemeliharaan dari Institusi berkaitan.
Ditambah gaya arsitektur Wujud Patung tersebut menyisakan beberapa pertanyaan terutama para pemerhati estetika dan penikmat seni pahat. Contoh bentuk Dayung dan Jaring yang dipegang oleh Dua Nelayan. Dicermati bentuk Dayung seakan jauh dari yang sebenarnya dan lebih mirip dengan Raket Badminton atau pemukul Kasur kala dijemur. Begitu juga dengan jaring tangkap layaknya kain biasa. Tidak menggambarkan jaring yang biasanya bolong - bolong kecil hasil anyam dari bahan tali sintetis. Lalu apakah jenis Gilnet atau jenis Pancing.
Patung Nelayan yang diresmikan pada Tanggal 01 April 2018 lalu, sepertinya diharapkan menjadi Ikon atau brand untuk Kecamatan Labuan, sayangnya keberadaan Patung saat - saat sekarang itu tak ubahnya tontonan kegetiran bagi Orang - orang yang 24 jam lalu lalang semata. Getir lantaran Ikan jenis Marlin hasil tangkap ke Dua Nelayan itu nampak amburadul. Bentuk nya begitu kacau yang mana perut, yang mana ekor, yang mana kepala, layaknya sisa - sisa si oyen (Kucing), sebab yang terlihat hanyalah sambungan besi kecil tipis dan berkarat.
Dikatakan AM Warga setempat. " Dalam kondisi seperti itu akankah Dinas terkait memperbaiki menyempurnakan atau mewujudkan kembali dalam bentuk semula." Ujarnya balik bertanya pada Wartawan Senin lalu (26/1/26).
Masih dikatakan AM " Membangun atau membuat sebuah kegiatan apapun cukuplah mudah, sebab Anggaran dari hasil pajak Rakyat siap dialokasikan. Akan tetapi Membangun saja jika tidak disertai perawatan atau pemeliharaan, jelas hal itu akan menjadikan pertanyaan besar." Demikian diutarakan AM pemerhati seni aliran naturalis dengan nada masygul.
Patung Nelayan berikut Ikan Marlin yang tinggal kerangka ibarat bait puisi Chairil Anwar." Kenang - kenanglah. Kami hanya tulang belulang yang dilapisi debu."
(Dhie).