Pandeglang Banten | Jalan Jenderal Ahmad Yani yang membatasi Dua Desa antara Desa Labuan dan Desa Kalang Anyar Kecamatan Labuan Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten sepertinya tak habis dipikir kalau memang pemikiran itu dalam keadaan sehat, tetapi entah kalau tidak. Lantaran baru beberapa Pekan ditambal kondisinya sudah kembali terlihat hancur - hancuran, Lobang - lobang semula kembali memperlihatkan diri, itupun kalau tidak digenangi Air, celakanya kalau tertutup Air hujan dan situasi Malam hari lobang jalan tak ubahnya sebuah jebakan, layaknya sang predator harus siapa dan seperti apa yang layak dijadikan tumbal malam ini. Contohnya pengendara Roda Dua dan Empat.
Lobang - lobang Jalan bermerek Jalan Jenderal Ahmad Yani itu. Jalan menuju arah Pandeglang - Cilegon, Jalan milik Nasional, bukan sekali dua kali dilakukan penambalan Bahakan dalam setiap Tahun ada saja kegiatan itu, tetapi penambalan hanya sebatas penambalan, faktanya tak serapat Tambal Ban. Ironisnya Warga setempat acapkali melihat langsung apabila pengerjaan penambalan itu seringkali dilakukan Malam Hari. Yang jadi pertanyaan apakah Mereka - mereka atau pekerja itu menganut aliran ilmu Sangkuriang atau Ken Arok yang alergi terhadap Kokok Ayam sehingga pengerjaan harus dimulai ketika Matahari tenggelam di ufuk barat.
Suatu Hari Warga Desa Kalang Anyar Imas datang ke Kantor Camat Kecamatan Labuan. Imas yang bertempat tinggal tidak jauh dengan Jalan berlobang. Menceritakan segala peristiwa dan bentuk musibah yang terjadi berikut Korban. Umumnya pengendara Roda Dua. Seperti Anak Sekolah terguling waktu hujan. Seorang Ibu yang nyaris terlindas Truk saat membawa perabot Rumah Tangga, dan seorang Bapak dengan Anaknya kala mengendarai Sepeda Listrik. Biang petakanya adalah lobang jalan tersebut.
" Harus kesiapa dan harus kemana Kami mengadukan hal itu . Sementara kejadian seperti itu layaknya tontonan kegetiran sehari - hari. " Keluh Imas dihadapan Anggota Sat Pol PP Tb Deni Hibarnas dan Staf Kecamatan Iwan Iskandar kala itu.
Tidak memperoleh jawaban yang memuaskan lantaran Jalan berlobang itu milik Nasional. Imas dengan langkah lesu dan Masygul serta perasaan Kecewa pamit.
Memang kata pribahasa Banyak Jalan Menuju Roma. Tapi disisi Lain Rhoma Irama yang sebenarnya mengatakan Gali lobang tutup lobang. Lobang digali untuk menutup lobang. Akankah selamanya seperti itu ? Tambal lagi berlobang lagi musibah lagi dan anggaran lagi . Allahu A'lam
(Dhie).