Memang sangat tidak mudah untuk menjadi seorang idealis, progresif dan revolusioner, yang memiliki ketegasan moral untuk selalu berani membela kebenaran dan keadilan di hadapan penguasa borjuis dan fasis. Ia tidak hanya akan dihadapkan dengan intimidasi, persekusi maupun teror fisik dan psikologis dari luar (baca: penguasa borjuis dan fasis), melainkan pula akan dihadapkan dengan banyaknya persoalan hidup dirinya sendiri mulai dari kemiskinan, penderitaan hingga teralienasi dari lingkungan, masyarakat, pekerjaan bahkan dengan dirinya sendiri.
Mungkin karena itu menjadi tidak terlalu mengejutkan lagi bagi kita, mengapa banyak figur oposisi jadi-jadian yang awalnya sangat kritis dan garang pada penguasa, namun tiba-tiba setelah mereka dirangkul masuk ke lingkaran penguasa borjuis dan fasis, mereka berubah menjadi lunak dan lembut. Atau kadang berubah seolah-olah jadi orang yang sangat moderat dan bijaksana. Pikiran-pikiran kritisnya mendadak musnah, tersapu sorot lampu istana yang megah.
Apa itu Penguasa Borjuis? Penguasa borjuis berarti penguasa yang lahir dan tumbuh dari kelas masyarakat yang memiliki modal, alat produksi atau kekayaan ekonomi. Atau secara sederhananya itu penguasa yang lahir dan tumbuh dari orang kaya yang kemudian hidup mewah, kadang punya "boti" dan memiliki gaya hidup kelas elit.
Sedangkan penguasa fasis berarti penguasa yang menjalankan pemerintahan dengan ciri-ciri fasisme, seperti:
1. Kekuasaan sangat terpusat pada pemimpin atau kelompok penguasa yang otoriter anti kritik dan gemar "membajingankan" para pengkritiknya.
2. Oposisi dan kritik politik ditekan, baik melalui intimidasi, teror, penculikan bahkan pembunuhan, atau ditekan dengan cara lain, misalnya ditekan hingga mau tidak mau, suka tidak suka harus mau masuk ke dalam sistem, yang berarti diangkat menjadi pejabat negara untuk memperkuat kedudukan penguasa borjuis dan fasis.
3. Kebebasan sipil dan kebebasan pers dibatasi; misalnya baru saja saya menulis yang menjelaskan dan mengkritisi mantan presiden (Sarkowi) yang ahli perkeliruan dan pernah memerintahkan untuk merebut salah satu Partai Politik, yang kemudian dilike serta dikomen oleh ribuan orang, namun tiba-tiba dihapus oleh Meta, hingga terpaksa saya menulisnya lagi dan lagi.
4. Mengutamakan kepatuhan dan loyalitas kepada penguasa atau pemerintah yang biasa dikaburkan dengan istilah negara.
5. Menggunakan propaganda dan mobilisasi massa, atau pengerahan para Buzzer Garis Sinting, untuk mengganggu konsentrasi berpikir dan pergerakan orang-orang yang kritis pada penguasa.
6. Cenderung menggunakan aparat negara untuk mempertahankan kekuasaan, melalui bentuk kriminalisasi pada orang-orang kritis dll.
Jadi, untuk menghadapi penguasa borjuis dan fasis yang seperti demikian itu memang sangatlah tidak mudah. Seseorang harus latihan terus menerus untuk dapat hidup sederhana, meninggalkan glamour dunia dan terpenting lagi, harus berlatih secara terus menerus menyampaikan gagasannya ke publik untuk diuji argumentasinya secara terbuka, serta harus siap dicaci maki para Buzzer Garis Sinting (BGS) yang biasanya selalu muncul tiba-tiba dan mengumpat dengan kalimat-kalimatnya yang kasar.
Setelah semua itu dilalui, barulah ia akan bisa tumbuh menjadi seorang yang bisa disebut Idealis Sejati. Idealis Sejati yang tidak akan lagi merasa risau dan putus asa, ketika ia teralienasi oleh lingkungan, masyarakat, pekerjaan bahkan teralienasi oleh dirinya sendiri yang selalu merasa kesepian, karena dijauhi oleh teman-temannya yang cuti nalar, terlebih kalau hanya dijauhi dan diasingkan oleh teman-temannya yang sudah menjadi orang-orang pragmatis, oportunis dan penjilat !...(SHE).3 Oktober 2026.
Saiful Huda Ems (SHE). Lawyer dan Aktivis '98, Musuhnya para Termul Garis Sinting.
(Tim/Red)